Boorlix.com – Banyak pengusaha perhotelan yang mengeluh akibat turunnya tingkat okupansi dalam 3 tahun belakangan ini. Selain lemahnya
perekonomian, penyebab lainnya juga karena semakin kosongnya hunian hotel yang diciptakan secara dadakan.

Direktur Eksekutif Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Cyprianus Aoer, mengungkapkan hotel-hotel dadakan tersebut
yakni apartemen-apartemen kosong yang disewakan secara harian atau mingguan. Fenomena yang menggerus bisnis hotel tersebut
bahkan saat ini telah didukung aplikasi sebagaimana yang berlaku transportasi online.

“Itu salah satu faktor (penurunan okupansi hotel), apartemen-apartemen itu yang disewakan, pakai aplikasi-aplikasi, juga
hotel-hotel baru yang bertambah. Selain itu juga karena ekonomi, karena memang low season,” kata Cyprianus.

Penurunan hunian hotel melorot hingga mencapai 30 %. “Ya 20% sampai 30% turunnya,” ujar Cyprianus.

Sementara itu, Ketua Himpunan Hotel Non-Bintang (PHNB), Sutrisno Iwantono, menuturkan maraknya hotel-hotel dadakan tersebut
membuat penurunan okupansi yang cukup signifikan. Hotel bintang satu dan hotel non bintang jadi yang paling terpukul.

“Hotel-hotel bintang satu dan hotel kecil non bintang paling terpengaruh, hotel yang bintang satu ke atas pun juga ikut
terdampak, tapi enggak besar. Karena ini kan banyak terjadi di kota-kota kecil,” kata Iwantono.

Menurut dia, meski beroperasi sebagai hotel, apartemen-apartemen kosong tersebut tidak dikenakan pajak dan retribusi
sebagaimana yang ditanggung pengelola hotel resmi. Lewat aplikasi pula, kamar-kamar kosong di rumah pribadi pun saat ini
bisa disewakan sebagai kamar hotel.

“Mereka kan tidak bayar pajak dan retribusi. Itu apartemen-apartemen kosong yang disewakan, atau kondotel tak resmi. Di luar
Jawa pun sama,” pungkas Iwantono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *