Boorlix.com – Aturan yang ditetapkan pemerintah tentang tarif taksi online dengan skema batas atas dan batas bawah pada 1 April 2017 mendatang banyak menuai pro dan kontra dikalangan masyarakan sekitar, dikarenakan tarif taksi online yang selama ini dinilai murah justru mungkin akan menjadi sama dengan taksi konvensional.

“Pemerintah harusnya tak perlu mengatur masalah tarif. Yang perlu diatur ialah standar pelayanan minimum (SPM), supaya bisa memaksimalkan kondisi pelayanan yang baik kepada masyarakat”, kata salah satu pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan.

“Seharusnya misalnya kewajiban dan pelayanan, misalnya uji KIR ya jalankan. Kalau itu dijalankan itu bagus. Tapi ini malah mengatur masalah lain, masalah tarif. Padahal pengguna enggak pernah ributkan masalah tarif,” tambah Azas di Hotel Mercure, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

“Aturan ini logika yang sangat terbalik. Katanya ini untuk kesetaraan, harusnya kesetaraan itu yang di atas mau menurunkan dirinya ke bawah. Bukan yang bawah suruh naik ke atas,” sambungnya.

Azas mengatakan, selama ini masyarakat sudah bisa menikmati jasa transportasi dengan harga yang murah dan layanan yang baik. Namun dengan aturan tarif ini, kata Azaz, pemerintah seolah-olah dipaksa untuk menggunakan transportasi yang mahal.

“Karena masalah tarif tadi, masyarakat yang selama ini sudah bisa menikmati tarif yang murah, nyaman, bagus, tapi sekarang dipaksa untuk naik ke atas, membayar lebih mahal,” kata dia.

“(Aturan) Itu tidak ada visi melindungi kepentingan pengguna. Harusnya pemerintah mengatur supaya kepentingan pengguna di jamin, supaya kepentingan pengguna itu penting. Bukan menekan yang menurut pengguna oke, malah jadi kacau,” tambahnya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *